Pada suatu masa, di belantara Nusantara, Indonesia berdiri di ambang kemerdekaan. Pulau-pulau yang subur, dikenal luas sebagai pusat rempah-rempah yang berlimpah, menarik serbuan penjajah. Bukan hanya tanahnya yang mereka incar, namun jiwa dan semangat bangsa ini hendak mereka lenyapkan.
Namun, Indonesia tidak hanya memiliki pahlawan berjubah putih atau berbaju loreng. Ada sekelompok yang dengan kesederhanaan mereka, dengan keikhlasan hati, berjuang dengan setegar-tegarnya. Mereka adalah para Santri, murid-murid yang mengikuti jejak Kyai mereka.
Bayangkanlah, saat matahari masih malu-malu muncul, sebuah kisah heroik tercipta di Mranggen. Pada 10 November 1945, bukan hanya hujan yang turun, melainkan juga darah dan air mata. Di medan tempur tersebut, barisan Santri bersama Kyai mereka berdiri teguh. Mereka mengedepankan keikhlasan, bahkan jika itu berarti harus merelakan jiwa raga untuk tanah air.
Puisi tidak bisa sepenuhnya mewakili perasaan, namun kisah Santri ini seakan mengajak kita untuk mengenang, bahwa kemerdekaan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari darah dan keringat banyak pihak. Tidak hanya pahlawan yang kita kenal, tetapi juga para Santri yang dengan sepenuh hati, mengangkat senjata demi satu tujuan: Merdeka atau Mati.
Dalam penjajahan, belajar bagi seorang Santri bukanlah hal yang mudah. Tapi keberanian para Kyai untuk mendirikan pesantren dan mengajak Santrinya berjuang, menjadikan perjuangan Indonesia semakin berarti.
Kita patut berbangga, bahwa di setiap jengkal tanah Indonesia, ada kisah-kisah heroik yang patut dikenang. Santri, dengan semangat dan doanya, ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.
Semangat Para Santri Untuk Indonesia Yang Terus Maju
Di sebuah Pondok
Mentari pagi mulai terasa panas
Karena jam sudah menunjukkan pukul 08:00
Di sana pelaksanaan Upacara sedang di laksanakan
Terdengar suara sang Inspektur Upacara
Menceritakan bagaimana perjuangan para Santri
Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia saat dulu kala
Di mana sangat sulit untuk berktivitas sesuai kewajiban nya
Suara Inspektur yang memulai cerita
Tentang perjuangan Santri pada masa penjajahan
Aku Merasa sangat bersyukur
Karena sekarang Indonesia telah Merdeka
Berkat semua perjuangan
Para pahlawan dan juga semua orang
Termasuk juga para Santri
Yang rela berkorban dalam peperangan
Betapa sulit nya para santri pada masa itu
Yang harus terus menuntut ilmu
Sedangkan keadaan sedang buruk
Karena terjadi peperangan di mana-mana
Membuat keadaan menjadi kacau
Semua orang kocar-kacir
Ingin menyelamatkan diri masing-masing
Dari tembakan peluru yang berasal dari musuh
Jadi, kami sebagai Santri
Tidak akan tinggal diam
Jika Negara kami dalam kesulitan
Kami para Santri tidak hanya mementingkan Agama
Tetapi, kami juga mementingkan Negara tercinta kami
Yaitu negara Indonesia tercinta
Akan ku berikan dan perjuangkan semua nya
Untuk Indonesia, meskipun nyawa taruhan nya
Penulis:
Tria Fahira Nuramaja (Aya)