082333777752    padepokankmudrikah@gmail.com

Post & Article

Karya Santri

Perjuangan dan Harapan: Refleksi Kemerdekaan Indonesia

  • 15 Aug, 2023
  • written by ADMIN

Pamekasan- Pada tanggal 19 September 1945, langit Surabaya menjadi saksi bisu perjuangan heroik para santri Indonesia. Di Hotel Oranje, terbentang dengan angkuhnya sebuah bendera penjajah yang bagai pengusik ketenangan, kini dicampur dengan warna biru yang seolah-olah menghinakan seruan merah putih bangsa kita. Warna biru itu adalah aib, sebuah cela yang harus dihapuskan dari tanah Air kita yang kaya.

Para ulama, kyai, dan ustadz-ustadzah, dengan semangat yang membara, memimpin para santri muda. Dengan penuh keyakinan, mereka bangkit melawan penindasan. Meski sakit dan lemah, semangat juang mereka tak pernah padam. Mereka berlari, menyeret tubuh yang terluka, bahkan berani menempuh rintangan dengan tandu demi mengusir para penjajah dari bumi pertiwi.

Harapan

Saat Indonesia merdeka, aku dilahirkan bukan sebagai anak budak, namun sebagai warga bangsa yang berdaulat. Harapanku bukan sekedar kemerdekaan, namun bagaimana agar tanah Air ini lebih maju dan berjaya. Aku menyaksikan perkembangan Indonesia, sebuah negara yang dijuluki "Syurga dunia", berdiri tegak dengan kebanggaan pada pahlawannya. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa pihak mulai mengacaukan kemakmuran ini. Saat ini mungkin belum begitu terlihat, namun jika kita lupa akan jasa para pendahulu, potensi keruntuhan menjadi nyata.

Kini, di usiaku yang muda ini, aku merindukan perayaan 17 Agustus yang dulu selalu ku alami dengan suka cita bersama teman-teman. Meski kini masih merayakannya, namun ada sedikit perbedaan ketika dihadapkan dengan berbagai masalah dan harapan di depan mata. Harapanku, sebagaimana visi para pemimpin terdahulu yang kugilai, adalah: "Jadikan Indonesia gemilang, pelihara keutuhannya, dan harumkan namanya." Dan dengan hati yang tulus, aku berdoa, "Ya Tuhan, peliharalah negeri ini dengan belas kasih-Mu."

“ Berikan aku Merdeka setelah Berdarah ”

Mengenang semarak sorakan terdahulu

Dulu sekali saat kobaran api masih tersumbu

Malam menjelma menjadi pagi

Sekedar terisi hari padat, namun sunyi dalam hati

Di dalam batin, menggemakan dzikir

Tanpa mengenal detik waktu untuk berakhir

 

Ketika malam kudengar rintihan lisan melirih

Mengeluh setelah pagi ditutup

Didalam tembok terbangun dari kayu reot

Santri-santri memohon do’a satu tujuan

Disela-sela permohonan mereka

Mereka memohon untuk memberi perlawanan

Tepatnya, izin untuk berjihad

 

19 september 1945

Amarah rakyat Surabaya telah marak

Jiwa Raga santri yang bersemayam mempersiapkan dirinya

Sebab do’a mustajabah mereka telah terjawab

Gemuruh langkah kaki gerak cepat membuat langit ikut sert

Seluruh penghuni kota Surabaya mengepung medan perang

Membuat musuh Belanda kalah saing

Merah membara dalam trah

Putih sang niat suci

Biru ialah masalah kesedihan

Bagi rakyat kota Surabaya

Benak setiap pengepung Hotel Orangje tak tertahan

Seluruh perasaan mereka lepas

Serta tangan Hariyono ikut melepas

Kesedihan di bawah semangat

Telah dihapus

 

Kala kudengar kisah itu

Kuteteskan air mata ghaib

Dan semangat yang tersulut

Ku tahu Mama menceritakan cerita itu telah lampau

Kini mendengar hal itu tidaklah asing

Namun...

Asing, bagi mereka penggerogot dalam bangsa

Tanpa sadar mulai menjatuhkan kehormatan bangsa

Untung saja aku yang tak bisa apa-apa

Meresa legah..

Melihat setengah bangsa ini masih sadar

 

Namun kegundahan dalam hati

Masih menjajah sama seperti terdahulu

Kutahu kita merdeka

Hanya aku kurang bebas

Bebas merasakan apa arti Merdeka sesungguhnya

Musuh dhohir telah diusir

Tapi penjajah batin masih menetap

 

Harapanku adalah harapan sang presiden

Presiden pembuat perubahan

Didalam hidupku yang suram

“Selamatkan Indonesia. Jaga Indonesia. Harumkan Indonesia. Atas rahmat-Mu Tuhan. Aku meminta belas kasih dari-Mu Sang Maha Pencipta ”

Terimakasih, dan terjadilah

Tolong..

Berikan aku Merdeka setelah berdarah

 

 

 

Penulis: Naurah Reisa Alana