Pamekasan- Pada tanggal 19 September 1945, langit Surabaya menjadi saksi bisu perjuangan heroik para santri Indonesia. Di Hotel Oranje, terbentang dengan angkuhnya sebuah bendera penjajah yang bagai pengusik ketenangan, kini dicampur dengan warna biru yang seolah-olah menghinakan seruan merah putih bangsa kita. Warna biru itu adalah aib, sebuah cela yang harus dihapuskan dari tanah Air kita yang kaya.
Para ulama, kyai, dan ustadz-ustadzah, dengan semangat yang membara, memimpin para santri muda. Dengan penuh keyakinan, mereka bangkit melawan penindasan. Meski sakit dan lemah, semangat juang mereka tak pernah padam. Mereka berlari, menyeret tubuh yang terluka, bahkan berani menempuh rintangan dengan tandu demi mengusir para penjajah dari bumi pertiwi.
Harapan
Saat Indonesia merdeka, aku dilahirkan bukan sebagai anak budak, namun sebagai warga bangsa yang berdaulat. Harapanku bukan sekedar kemerdekaan, namun bagaimana agar tanah Air ini lebih maju dan berjaya. Aku menyaksikan perkembangan Indonesia, sebuah negara yang dijuluki "Syurga dunia", berdiri tegak dengan kebanggaan pada pahlawannya. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa pihak mulai mengacaukan kemakmuran ini. Saat ini mungkin belum begitu terlihat, namun jika kita lupa akan jasa para pendahulu, potensi keruntuhan menjadi nyata.
Kini, di usiaku yang muda ini, aku merindukan perayaan 17 Agustus yang dulu selalu ku alami dengan suka cita bersama teman-teman. Meski kini masih merayakannya, namun ada sedikit perbedaan ketika dihadapkan dengan berbagai masalah dan harapan di depan mata. Harapanku, sebagaimana visi para pemimpin terdahulu yang kugilai, adalah: "Jadikan Indonesia gemilang, pelihara keutuhannya, dan harumkan namanya." Dan dengan hati yang tulus, aku berdoa, "Ya Tuhan, peliharalah negeri ini dengan belas kasih-Mu."
“ Berikan aku Merdeka setelah Berdarah ”
Mengenang semarak sorakan terdahulu
Dulu sekali saat kobaran api masih tersumbu
Malam menjelma menjadi pagi
Sekedar terisi hari padat, namun sunyi dalam hati
Di dalam batin, menggemakan dzikir
Tanpa mengenal detik waktu untuk berakhir
Ketika malam kudengar rintihan lisan melirih
Mengeluh setelah pagi ditutup
Didalam tembok terbangun dari kayu reot
Santri-santri memohon do’a satu tujuan
Disela-sela permohonan mereka
Mereka memohon untuk memberi perlawanan
Tepatnya, izin untuk berjihad
19 september 1945
Amarah rakyat Surabaya telah marak
Jiwa Raga santri yang bersemayam mempersiapkan dirinya
Sebab do’a mustajabah mereka telah terjawab
Gemuruh langkah kaki gerak cepat membuat langit ikut sert
Seluruh penghuni kota Surabaya mengepung medan perang
Membuat musuh Belanda kalah saing
Merah membara dalam trah
Putih sang niat suci
Biru ialah masalah kesedihan
Bagi rakyat kota Surabaya
Benak setiap pengepung Hotel Orangje tak tertahan
Seluruh perasaan mereka lepas
Serta tangan Hariyono ikut melepas
Kesedihan di bawah semangat
Telah dihapus
Kala kudengar kisah itu
Kuteteskan air mata ghaib
Dan semangat yang tersulut
Ku tahu Mama menceritakan cerita itu telah lampau
Kini mendengar hal itu tidaklah asing
Namun...
Asing, bagi mereka penggerogot dalam bangsa
Tanpa sadar mulai menjatuhkan kehormatan bangsa
Untung saja aku yang tak bisa apa-apa
Meresa legah..
Melihat setengah bangsa ini masih sadar
Namun kegundahan dalam hati
Masih menjajah sama seperti terdahulu
Kutahu kita merdeka
Hanya aku kurang bebas
Bebas merasakan apa arti Merdeka sesungguhnya
Musuh dhohir telah diusir
Tapi penjajah batin masih menetap
Harapanku adalah harapan sang presiden
Presiden pembuat perubahan
Didalam hidupku yang suram
“Selamatkan Indonesia. Jaga Indonesia. Harumkan Indonesia. Atas rahmat-Mu Tuhan. Aku meminta belas kasih dari-Mu Sang Maha Pencipta ”
Terimakasih, dan terjadilah
Tolong..
Berikan aku Merdeka setelah berdarah
Penulis: Naurah Reisa Alana